Showing posts with label pssi. Show all posts
Showing posts with label pssi. Show all posts

Saturday, May 21, 2011

Sanksi terhadap PSSI Ditentukan 30 Mei

|0 comments
Penulis : Asni Harismi


JAKARTA--MICOM: Nasib sepak bola Indonesia kini tinggal menunggu kebaikan hati FIFA. Akibat kongres pemilihan pengurus baru PSSI 2011-2015 pada 20 Mei lalu berakhir <>deadlock<>, FIFA yang akan memutuskan sanksi seperti apa yang akan dikenakan kepada PSSI, dan hal itu akan diputuskan dalam sidang Komite Eksekutif FIFA 30 Mei mendatang.

Ketua Komite Normalisasi sekaligus Ketua Kongres PSSI Agum Gumelar tidak bisa memastikan bentuk hukuman yang akan diterima Indonesia. Ia hanya bisa mengatakan bahwa KN tidak akan menggelar kongres susulan serta hanya akan menyusun laporan hasil kongres di Hotel Sultan, Jakarta tersebut untuk diserahkan ke FIFA.

"Saya berharap pada Thierry (Regenass) dan (Frank) Van Hattum agar jangan sampai kita dikenakan sanksi. Kelanjutannya akan diputuskan pada sidang komite eksekutif FIFA pada 30 Mei," ungkap Agum ketika dihubungi, Sabtu (21/5).

Mantan Ketua Umum PSSI 1999-2003 itu tidak yakin jika Indonesia bisa lolos dari sanksi FIFA. Hal itu diindikasikan dari pernyataan kedua perwakilan FIFA tersebut, sesaat setelah kongres berakhir rusuh akibat Kelompok 78 memaksakan kehendak selama kongres berlangsung.

"Mereka cuma bilang kalau mereka teramat kecewa dengan sikap yang ditunjukan peserta sidang. Mereka (para peserta sidang) telah mempermalukan FIFA dan menghujat Regenass. Mereka (FIFA) tidak terima," ucap Agum.

Dalam kongres itu, Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA Thierry Regenass mencoba menerangkan alasan penolakan FIFA terhadap dua kandidat yaitu George Toisutta dan Arifin Panigoro. Namun penjelasan ini tampaknya tidak memuaskan Kelompok 78 yang terus mencecar Regenass.

"Indonesia bisa memilih untuk berada dalam krisis, yaitu PSSI berseberangan dengan FIFA dan AFC, atau kembali mengembangkan sepak bola dengan keikutsertaan tim nasional di ajang internasional," kata Regenass.

Agum menambahkan, sudah terlambat jika pemerintah ingin melobi FIFA agar tidak menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia. Sambil tertawa lemah, Agum mengatakan seharusnya pemerintah bisa mencegah kekisruhan itu jika mau mengambil langkah jauh sebelum kongres berlangsung.

"Seharusnya pemerintah bisa cegah ini semua. Sebetulnya ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah ini semua," ujarnya. (HA)


www.mediaindonesia.com

Timnas U-13 Tim Pertama Korban Sanksi FIFA

|0 comments
JAKARTA--MICOM: Kegagalan Kongres PSSI 20 Mei menimbulkan kekhawatiran akan berdampak pada penampilan timnas dan beberapa klub nasional di pentas internasional. Tim U-13 terancam batal hadir di Festival U-13 AFF di Malaysia pada awal Juni 2011 jika ada sanksi pembekuan oleh FIFA.

Kekhawatiran ini disampaikan pelatih tim nasional U-13 Indonesia Mundari. "Ini akan menjadi tim pertama yang tak dapat tampil di ajang internasional jika sanksi itu diberikan kepada Indonesia," kata Mundari di Jakarta, Sabtu (21/5).

Menurut dia, para peserta kongres PSSI yang paling bertanggung jawab atas hal ini. "Buat apa pemain-pemain muda berlatih kalau akhirnya tak bisa bertanding di arena internasional," katanya.



Ia menilai para peserta kongres tidak memikirkan hal-hal ke depan yang mengakibatkan bangsa ini dikucilkan dari pertandingan internasional. "Para peserta kongres tidak memikirkan pemain masa depan Indonesia," katanya.

Klub yang akan tertimpa juga terkait pertandingan internasional adalah klub Sriwijaya FC dan Persipura yang akan tampil di babak lanjutan Piala AFC. (Ant/OL-11)


www.mediaindonesia.com

Friday, May 20, 2011

Inilah Kronologi Kericuhan Kongres PSSI

|0 comments
INILAH.COM, Jakarta - Kongres PSSI yang berlangsung di Hotel Sultan, Jumat (20/5/2011) WIB, berakhir ricuh dan berujung pada ditutupnya Kongres PSSI oleh Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar. Inilah kronologi lengkap kericuhan tersebut.
Kongres PSSI berlangsung di Ballroom Hotel Sultan dan dimulai pada pukul 14.40 WIB dengan agenda tunggal yakni pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan sembilan Anggota Komite Keksekutif PSSI periode 2011-2015.
Kongres dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta Kongres. Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar. Setelahnya, Ketua KONI Rita Subowo dan terakhir Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng menyampaikan sambutannya.
Ketiganya mengungkapkan pesan yang sama, yakni agar kongres yang dilansgsungkan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini berjalan dengan tertib, lancar, dan dalam suasana persahabatan untuk memulai proses kebangkitan sepakbola nasional yang saat ini tengah terpuruk.
Saat itu, suasana masih terlihat cukup kondusif. Para peserta tampak khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menanggapi dengan antusias sambutan ketiga tokoh olahraga nasional tersebut.
Akan tetapi, suasana mulai memanas selepas rehat usai pembukaan, sekitar pukul 16.00. Salah satu pemilik suara menginginkan agar petugas keamanan panitia dan para pihak-pihak yang tidak memiliki hak suara di dalam ruangan kongres untuk meninggalkan ruangan.
Yang kedua, para pemilik suara tersebut menginginkan adanya penjelasan dari Komite Banding Pemilihan terkait dengan putusan banding yang mereka buat pada 12 Mei silam.
Kemudian, sebagian peserta kongres juga mendesak agar FIFA memberikan alasan penganuliran George Toisutta dan Arifin Panigoro. Akhirnya, perwakilan FIFA Thierry Regenass yang tadinya hanya bertindak sebagai pengamat angkat bicara.
Permintaan pertama diakomodasi ketua KN dengan meminta pihak-pihak yang tidak memiliki hak suara untuk agak menjauh dari tempat duduk peserta, namun tetap berada di dalam ruangan.
Sementara untuk permintaan kedua tidak diakomodir karena ditegaskan Agum, hal tersebut tidak ada dalam agenda kongres.
Namun Agum memberikan kesempatan kepada Direktur Asosiasi dan Pengembangan Federasi FIFA Thierry Regenass memaparkan dengan jelas alasan penganuliran kedua nama tersebut.
Para pemilik suara yang dikenal dengan kelompok 78 itu tak puas dan tetap memaksakan diadakannya agenda mendengar penjelasan dari Komite Banding Pemilihan.
Silih berganti mereka mengajukan interupsi untuk topik yang sama dan hanya memberikan sedikit kesempatan kepada Agum untuk menjawab. Agum tetap pada keputusannya untuk tidak memberikan kesempatan.
Sebelum istirahat dan sholat Maghrib, ketua KN tersebut memberikan kesempatan untuk melakukan voting, menentukan akan tetap melaksanakan kongres sesuai agenda atau tidak. Kelompok 78 pun menyetujui.
Sekitar pukul 18.00 WIB, ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar akhirnya mengumumkan bahwa Kongres diistirahatkan selama satu jam.
Setelah kongres kembali dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, hujan interupsi terus terjadi. K78 meminta voting dilakukan untuk menentukan adanya penjelasan dari KBP, bukan untuk melanjutkan agenda kongres.

Debat pun kembali berlangsung hingga menjelang pukul 20.00. Agum sedikit melunak dan menawarkan voting tertutup mengenai waktu untuk penjelasan KBP, namun ditolak karena ingin voting dilakukan secara terbuka.

Namun setelah Agum menyetujui voting dilakukan secara terbuka, kelompok tersebut justru meminta dilakukan voting mengganti pemimpin kongres, yakni Komite Normalisasi.

Hujan interupsi tak henti silih berganti. Sebagian besar disampaikan dengan nada keras setengah berteriak atau berteriak. Suasana kongres tak ubahnya seperti arena orasi para pengunjuk rasa jalanan. Mereka tak lagi memedulikan giliran menyampaikan interupsi. Dengan mic ataupun tanpa mic, mereka menyampaikan pendapatnya masing-masing.

Pemimpin Sidang yang juga Ketua Komite Normalisasi kewalahan dan bahkan tidak sempat memberikan penjelasan karena baru mengucapkan beberapa patah kata sudah langsung ditimpa dengan interupsi lainnya.

Buntutnya, salah satu anggota Komite Normalisasi FX Hadi Rudiatmo memutuskan untuk mundur dan melakukan walkout dari arena kongres.

Akhirnya, sekitar pukul 20.45, Agum Gumelar memutuskan untuk menutup kongres karena menilai suasana kongres sudah tidak lagi kondusif dengan mengetuk palu sebanyak tiga kali.

"Karena situasi sudah tidak kondusif dan tidak memungkinkan kita menghasilkan suatu keputusan, maka dengan mengucap alhamdulillah dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan ini kongres saya tutup," putusnya

oleh :Arie Nugroho


www.inilah.com