Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Monday, October 10, 2011

ECB minta pemerintah Eropa berikan jaminan penerbitan obligasi negara

|0 comments
MILAN. European Central Bank (ECB) mengungkapkan, dana talangan yang dialirkan ke negara-negara yang terbelit masalah harus diperbesar. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan menggunakan jaminan pemerintah ketimbang dengan cara operasi pasar seperti yang sudah dilakukan ECB.
Bank Central Eropa tersebut berpendapat, pemerintah harus menggunakan dana 440 miliar euro atau setara dengan US$ 603 miliar dalam program European Financial Stability Facility (EFSF). Maksudnya, dana ini digunakan sebagai asuransi bagi negara-negara bermasalah yang menerbitkan surat utang.
Wakil Presiden ECB Vitor Constancio berpendapat, EFSF harus didedikasikan untuk meningkatkan penerbitan surat utang baru dan melindungi negara-negara bagian terhindar dari krisis.
Para pemimpin Eropa bisa mendiskusikan manfaat EFSF selama pertemuan yang terjadi hingga 23 Oktober mendatang.

www.kontan.co.id

Thursday, October 6, 2011

Operation Twist, Fed jual obligasi pertama kali sejak 2008

|0 comments
NEW YORK. The Federal Reserve (The Fed) mulai memberikan stimulus ekonomi melalui program yang dikenal dengan sebutan Operation Twist. Kamis (6/10) Bank Sentral Amerika ini menjual obligasi senilai US$ 8,87 miliar dengan tujuan menurunkan biaya pinjaman. Tapi tenor surat berharga yang dijual tersebut tak lebih dari satu tahun.
Berdasarkan keterangan di situs resmi The Fed, obligasi yang diedarkan akan jatuh tempo pada Januari 2012 hingga Juli 2012. Ini adalah penjualan yang pertama kali dilakukan otoritas moneter Amerika sejak Mei 2008. Sebelumnya, pada 21 September silam, Fed mengumumkan akan melakukan Operation Twist tahun ini dan dimulai pada 3 Oktober 2011.
Dalam operasi pasar ini, Fed menukar portfolio obligasi jangka pendek senilai US$ 400 miliar dengan obligasi jangka panjang. Langkah ini juga diyakini bisa meredam laju krisis keuangan di Amerika Serikat (AS). Artinya, pemegang kendali neraca keuangan AS berharap, Paman Sam tak terlalu lama memikul utang yang terus membubung.
Selain penjualan ini, Bank Sentral yang digawangi oleh Ben S Bernanke juga bakal memborong surat utang yang memiliki tenor 30 tahun. Tak berhenti di program pembelian, selanjutnya Fed akan menjual obligasi dengan jumlah yang sama. Tapi, memiliki tenor lebih pendek yaitu tiga tahun atau kurang dari itu.
Program Operation Twist ini juga berisi mengenai rencana Fed yang akan membeli tresuri yang beredar di masyarakat sebanyak 13 kali dalam waktu sebulan. Dalam waktu yang sama, Fed menjual surat utang sebanyak enam kali.
Sedikit bernostalgia, Bernanke sekali waktu pernah berjanji, The Fed tak kan pernah mengulangi kesalahan pada tahun 1937. Ketika itu, bank sentral AS terlalu terburu-buru mengetatkan kebijakan moneternya sehingga ekonomi AS yang sedang jeblok makin terpuruk.
Bernanke memegang ucapannya. Selain melakukan Operation Twist, Ia juga akan menjaga bunga acuan nyaris nol persen sejak akhir 2008 dan mengerek neraca The Fed hingga tiga kali lipat lebih menjadi US$ 2,85 triliun.

www.kontan.co.id

Tuesday, October 4, 2011

Analis : Waspadai pelemahan euro lebih lanjut

|0 comments
JAKARTA. Keputusan lembaga pemeringkat Moody’s memangkas peringkat kredit Italia sebanyak 3 derajat, meningkatkan kekhawatiran akan kondisi ekonomi Eropa. Langkah Moody's juga membuat pasar kembali dilanda kepanikan atas kondisi Yunani.

Mata uang kawasan ini pun diperkirakan akan tertekan pada transaksi hari ini. Analis memprediksi, tren masih dalam rentang pelemahannya, mencapai lagi level terendah bulanannya. "Penurunan dapat ditandai dengan trend channel turunnya yang masih aktif di harian. Pada hourly yang sempat naik mulai terlihat gerak turunnya, didukung pada momentum yang merosot," tutur Herien Douglas, Analis Valbury Asia Futures.

Memang, euro berhasil menguat 1,27% terhadap dollar AS ke 1,3347 setelah sempat mendekati level terendah dalam kurun sembilan bulan terakhir pada awal sesi New York. Penguatan euro antara lain didukung oleh sebuah artikel yang dirilis Financial Times bahwa pemimpin Uni?Eropa tengah mempertimbangkan untuk merekapitalisasi institusi keuangan yang bermasalah.

Atas kondisi ini, Herien memberikan saran agar investor tak terlalu agresif dalam melakukan transaksi. "Waspadai gerak pada level 1,3369-1,3463 merupakan resistance, tren dapat berlanjut selama area itu masih utuh," saran Herien.

www.kontan.co.id

Monday, October 3, 2011

Wow, indeks S&P 500 merosot di bawah level 1.100

|0 comments
NEW YORK. Pasar saham dan komoditas terguncang. Sebagai bukti, kemarin, indeks Standard & poor's 500 dan harga kontrak minyak anjlok ke level terendah dalam setahun terakhir. Penyebabnya, pelaku pasar cemas mengenai krisis Eropa.

Sekadar informasi, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Standard & Poor's 500 turun 2,9% menjadi 1.099,23. Salah satu saham yang paling besar menggerus indeks S&P 500 adalah Bank of America yang penurunannya mencapai 9,6% ke level terendah dalam 30 bulan terakhir.

Sedangkan indeks S&P GSCI Commodities turun 0,9% dan menyentuh level terendah dalam 10 bulan terakhir. Tidak hanya itu, euro juga keok atas 13 dari 16 mata uang dunia ke level paling lemah dalam satu dekade terakhir terhadap yen. Sedangkan yield surat utang negara AS meorost 18 basis poin ke 2,74%, terkecil sejak Januari 2009.

"Eropa masih akan menjadi fokus utama perhatian investor. Pengambilan risiko (risk on) dan pelepasan risiko (risk off) dalam transaksi perdagangan masih akan terus berlanjut," papar Peter Jankovskis dari Oakbrook Investment di Lisle, Illinois.

Sekadar tambahan saja, indeks S&P 500 sudah anjlok 14% pada kuartal III. Sementara, Stoxx 600 anjlok 17% dan S&P GSCI melorot 12%. Kesemuanya mencatatkan penurunan terbesar sejak kuartal IV 2008 setelah Lehman Brothers Holdings Inc bangkrut.

www.kontan.co.id

Wednesday, September 28, 2011

Masuki Oktober, Trader Emas Sebaiknya Waspada

|0 comments


North Caroline – Oktober sudah di depan mata. Bagi para trader emas, ada baiknya berhati-hati, karena bulan ini adalah masa terburuk dalam kalender untuk logam mulia.
Demikian menurut kolumnis MarketWatch Mark Hulbert. Ia menilai, Oktober adalah bulan terburuk dalam kalender untuk emas. “Ada beberapa sentimen negatif musiman terhadap logam kuning. Namun, hal ini terbantu acara pernikahan dan festival-festival di India,”ujarnya.
Bila melihat historis Oktober selama tiga dekade terakhir, London PM Fixing Price dalam dolar AS telah turun rata-rata 0,9% selama bulan kesepuluh. Itu sebanding dengan keuntungan 0,6% pada seluruh bulan lainnya. Ada perbedaan 1,5 % yang signifikan secara statistik.
Saat ini, sebagian besar pedagang emas pun sudah bertransaksi secara penuh pada September, yang menjadi aksi serius untuk logam kuning. Bahkan setelah reli 3,6%, emas turun 10% untuk bulan itu. “Para investor mungkin tidak bisa menunggu hingga September berakhir,” katanya.
Ada beberapa faktor yang membebani pergerakan emas. Salah satunya adalah kecenderungan historis emas untuk beralih ke saham. Terutama sejak saham pada Oktober sering mencapai titik terendah dan mulai reli cukup kuat, “Saat itulah uang cenderung mengalir keluar dari emas ke saham.”
Meskipun teori ini tidak memenuhi fakta dengan sempurna, setidaknya konsisten dengan apa yang cenderung terjadi pada September, bulan yang rata-rata buruk untuk saham. Faktanya, bila September adalah bulan terburuk dari kalender untuk saham, itu adalah yang terbaik untuk emas.
Namun, ada masa ketika teori mulai tidak sesuai, yakni pada November dan Desember, dimana baik emas dan saham cenderung naik. Tapi, menurut studi dari Ned Davis Research, ada faktor-faktor musiman lainnya yang dapat membantu menjelaskan kekuatan emas di bulan-bulan selanjutnya tersebut.
Salah satunya adalah permintaan perhiasan di India, konsumen terbesar dunia. Analis ekuitas senior Ned Davis, John LaForge menjelaskan bahwa, bahkan dengan semua kepentingan spekulatif dalam berinvestasi emas, sekitar 50% permintaan emas masih berasal dari perhiasan.
“Lebih dari setengah permintaan ini berasal dari India dan China. Sementara China dengan cepat menjadi pemain besar di pasar perhiasan, India telah menjadi pendorong utama selama bertahun-tahun, " kata LaForge.
Permintaan emas India ternyata juga mempunyai pola musiman sendiri. Satu periode adalah sekitar Diwali, festival lima hari yang dimulai antara pertengahan Oktober sampai pertengahan November. Selanjutnya adalah ketika pasangan India banyak melangsungkan pernikahan.
LaForge menganalisis perilaku harga emas selama satu dekade, pada bulan sebelum dan setelah festival Diwali terakhir. Ia menemukan bahwa emas biasanya melemah pada awal Diwali. Terkait hal ini, ia pun menyarankan investor untuk memperhatikan Diwali yang tahun ini dimulai pada 26 Oktober.
Permintaan emas di India mengalami puncaknya selama musim festival, yang dimulai dengan Idul Fitri bulan lalu dan berakhir pada Diwali Oktober mendatang. Kemudian diikuti musim pernikahan tradisional. Permintaan untuk koin dan batangan emas juga meningkat karena investor mencari tempat berlindung terhadap inflasi.
Namun, pola ini tampaknya akan sedikit mengalami perubahan. Pasalnya, penurunan harga emas dari level rekor, akan memicu permintaan akan logam mulia ini sebelum musim festival di India tiba.
Emas untuk pengiriman segera anjlok 8,8% dalam tiga hari perdagangan kemarin, kejatuhan terbesar sejak kegagalan Lehman Brothers Holdings Inc pada 2008. Koreksi terjadi karena beberapa investor menjual logam untuk menutupi kerugian di pasar lain, atas kekhawatiran bahwa ekonomi global dapat jatuh ke dalam resesi.
Bhaskar Bhat, managing director Titan Industries Ltd (TTAN), peritel perhiasan terbesar India mengatakan, harga emas telah turun, dan telah mendorong permintaan cukup besar akan emas, dua sampai tiga hari terakhir. “Penurunan harga emas telah membuat logam mulia lebih menarik bagi investor karena alternatif lain tidak menarik," ujarnya dikutip dari Bloomberg.
“Sebuah pemulihan permintaan emas India dapat membantu memperpanjang reli 16% tahun ini,” katanya.
Emas mendapatkan keuntungan 11 tahun terakhir, akibat krisis utang Eropa dan kekhawatiran bahwa ekonomi AS mungkin melambat sehingga memacu permintaan untuk investasi. Survei Bloomberg yang dilakukan pada konferensi London Bullion Market Association di Montreal bulan ini bahkan memperkirakan, emas akan naik ke rekor US$ 2.038 per ounce pada akhir tahun. [ast]

www.inilah.com

Sunday, September 25, 2011

Kaasik: ECB siap pangkas suku bunga jika kondisi memburuk

|0 comments
WAHINGTON. Kabar positif akhirnya datang juga. Deputi Gubernur Bank Sentral Estonia Ulo Kaasik mengungkapkan, Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengambil langkah-langkah strategis untuk menyokong perekonomian di kawasan regional. Hal itu juga termasuk pemangkasan suku bunga acuan jika outlook perekonomian kian memburuk.

"Saat ini, prediksi ekonomi yang dikeluarkan ECB menunjukkan belum adanya strategi untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, jika situasi memburuk, kami siap mengubah opini tersebut," jelas Kaasik.

Pernyataan Kaasik itu menegaskan kembali pernyataan anggota ECB Ewald Nowotny dan Luc Coene beberapa hari lalu yang menyatakan bahwa bank sentral akan mengambil langkah strategis untuk mendongkrak pertumbuhan dan meredakan ketegangan pada pasar finansial paling cepat bulan depan.

Catatan saja, saat ini, suku bunga acuan di Eropa adalah 1,5%. Sebagai perbandingan, suku bunga the Federal Reserve, Bank of Japan, serta Bank of England berada di level 0,5% atau mendekati nol.


www.kontan.co.id

Wednesday, September 21, 2011

Cemas Menanti Pengumuman Bernanke

|0 comments
INILAH.COM, Jakarta - Rabu (21/9) ini merupakan hari yang menentukan bagi pemilik uang untuk menentukan sikap. Sebab, pada Kamis dini hari nanti (22/9), The Fed akan mengumumkan stimulus jilid III (quantitative easing/EQ3) serta dana talangan untuk Yunani.
Seperti yang sudah-sudah, biasanya para investor melakukan antisipasi dengan cara mengoleksi dolar beberapa hari sebelum The Fed mengambil keputusan. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk mengamankan aset mereka. Aksi ini tampak jelas dengan melemahnya rupiah terhadap dolar dalam beberapa hari terakhir.
Kelanjutan EQ3 sebenarnya akan diumumkan Agustus lalu. Namun rencana itu akhirnya ditunda hingga 23 September (besok) akibat memburuknya indikator perekonomian Amerika. Jika indikator ekonomi masih tetap buruk, seperti inflasi yang tinggi dan melemahnya PDB (Produk domestik bruto), besar kemungkinan EQ3 akan menjadi pilihan terakhir.
Apalagi, dari pengalaman EQ1 dan EQ2 terdahulu, persoalan ekonomi Amerika ternyata tidak dapat diselesaikan lewat pemberian stimulus. Kebijakan stimulus ini justru memicu kenaikan harga-harga.
Hingga Rabu malam ini kelanjutan stimulus memang masih menjadi teka-teki. Tapi besar kemungkinan Ben Bernanke, Gubernur The Fed, masih akan mempertahankan suku bunga seperti level saat ini. Tetapi jika EQ3 dijalan, ini akan menjadi kabar baik bagi dunia. Para analis yakin, harga saham akan langsung naik. “Penurunan bursa akan terendam,” kata Irwan A Napitupulu, pengamat pasar modal.
Indonesia pun akan kembali dibanjiri modal asing, sehingga rupiah pun akan kembali menguat terhadap dolar. “Namun demikian, volatilitas masih akan tinggi karena inti masalah utang yang membebani Amerika dan Eropa belum terpecahkan,” lanjut Irwan. [mdr]

inilah.com

Tuesday, September 20, 2011

Emas Naik ke Level US$1.800 per Ons Lagi

|0 comments
New York - Emas berjangka mengalami rebound pada perdagangan Selasa (20/9) sehingga berada di atas level US$1.800 per ons. Investor masih khawatir krisis Eropa dan menunggu aksi Fed.

Emas untuk pengiriman Desember naik US$30,20 menjadi US$1.809,10 per ons di Comex New York Mercantile Exchange. "Ada beberapa aset yang beralih ke aset safe haven," kata analis MF Global, Tom Pawlicki, seperti dikutip dari yahoofinance.com.

Investor juga menunggu pengumuman stimulus pada hari Rabu dari Fed. Stimulus itu diharapkan dapat mengurangi pemborosan fiskal.

Dalam jangka menengah, harga emas diprediksi akan melemah. Salah satunya karena masih sulit untuk menembus level tertinggi yang pernah tercapai pada 6 September di US$1.920 per ons.

inilah.com

Sunday, July 24, 2011

Plafon Kredit AS Buntu, Emas Capai Rekor

|0 comments
Sydney - Emas berjangka mencapai rekor baru pada perdagangan elektronik Senin (25/7), karena pembicaraan plafon utang AS untuk mencegah default, tidak mencapai kata sepakat.
Emas untuk pengiriman Agustus naik US$ 16,30, atau 1,0% menjadi US$ 1.617,70 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange selama jam perdagangan Asia. Emas pekan lalu mencapai rekor nominal US$ 1,602.50 per ounce.
Disesuaikan dengan inflasi, emas harus berada di level US$ 2.400 per ounce untuk menggantikan level rekor US$ 850 per ounce yang dicapai pada Januari 1980.
Logam diungtungkan dari ketidakpastian masalah utang global beberapa pekan terakhir, dengan kebuntuan negosiasi AS.
Anggota parlemen AS gagal mencapai kesepakatan pada pendekatan untuk meningkatkan plafon kredit di Washington pada Minggu (24/7) waktu setempat. Presiden Barack Obama kemudian bertemu dengan para pemimpin Kongres dari partainya sendiri.
Batas atas utang US$ 14,3 triliun harus dinaikkan sebelum 2 Agustus atau pemerintah akan mengalami risiko default pada kewajibannya.
Analis dari MF Global mengatakan, kurangnya resolusi dari pembicaraan plafon kredit AS akan membebani dolar AS, namun membawa potensi untuk emas.
"Menaikkan plafon kredit pada menit-menit terakhir merupakan pesan yang tidak diinginkan investor," kata para analis, "Korban utama dari keputusan seperti itu akan menimpa dolar AS."
Komoditas harus melakukan yang lebih baik, setidaknya pada awalnya, sebagai aset alternatif dari mata uang kertas. "Emas mendapat manfaat terbanyak," kata mereka.
Indeks dolar, yang melacak kinerja unit AS terhadap enam mata uang lainnya, merosot ke 74,197, dari 74,221. Greenback cenderung diperdagangkan terbalik terhadap harga komoditas berbasis dolar. Salah satunya emas, karena melemahnya dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Harga logam lainnya variatif pagi ini.
Perak yang mengikuti pergerakan emas, dengan kontrak September, naik 33 sen, atau 0,8%, menjadi US$ 40,45 per ounce. Tembaga untuk pengiriman September turun 1 sen, atau 0,3%, menjadi US$ 4,40 per pon.
Platinum Oktober naik US$ 1,30, atau 0,1%, menjadi US$ 1.799,70 per ounce, sedangkan palladium September turun US$ 2,15 atau 0,3%, menjadi US$ 804,25 per ounce. [ast]

www.inilah.com

Tuesday, July 19, 2011

Bursa Asia melejit karena optimisme AS bakal sepakati pemangkasan defisit

|0 comments
TOKYO. Pasar saham Asia menguat, dan menggiring indeks regional ke level penutupan tertinggi sepekan. Reli bursa saham dipicu, optimisme anggota parlemen AS akan mencapai kesepakatan untuk mengurangi defisit anggaran. Sentimen positif juga ditopang kinerja Apple Inc. yang melebihi perkiraan, sehingga mendorong prospek pendapatan bagi eksportir.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,8% ke level 136,2 pada pukul 09.49 di Tokyo, menuju penutupan tertinggi sejak 11 Juli. Sekitar 10 saham menguat berbanding satu saham yang jatuh.

Adapun, hingga pukul 09.00 WIB, indeks Nikkei sudah melaju 1,44%. Indeks Hang Seng reli 0,63%, dan Shanghai naik 0,54%. Penguatan juga terjadi pada indeks Kospi yaitu sebesar 1,14%, serta indeks Australia S&P/ASX 200 yang melejit 1,67%.

Beberapa saham yang menopang laju indeks, seperti saham eksportir terbesar produk elektronik Korea Selatan, Samsung Electronics Co. yang reli 2,8% di Seoul. Lalu, saham produsen mobil terbesar di dunia, Toyota Motor Corp. yang maju 1,2% di Tokyo. Saham emiten tambang terbesar di dunia, BHP Billiton Ltd juga melaju 1,8% di Sydney, setelah harga minyak dan logam berjangka naik.

Kemarin, indeks acuan regional turun untuk pekan yang pertama dalam empat minggu terakhir. Ini terjadi setelah menteri keuangan Eropa menolak untuk menyingkirkan default sementara bagi Yunani. Sementara, Moody Investors Service menyebut kemungkinan penurunan peringkat kredit AS.

Manajer ekuitas dari SMBC Nikko Securities Inc. Hiroichi Nishi menilai, investor merasa kecemasan berkurang terkait default dan ekonomi di AS. "Kinerja laba yang kuat di perusahaan AS berdampak bagus bagi prospek laba perusahaan Jepang," ujarnya, hari ini.

www.kontan.co.id

Wednesday, July 13, 2011

Harga emas diprediksi bisa mencapai US$ 1.600 bulan ini

|0 comments

JAKARTA. Krisis Eropa memoles kilau harga logam mulia. Harga emas di New York Mercantile Exchange, Rabu (13/7), sempat menyentuh US$ 1.577,40 per ons troi. Ini merupakan posisi terkuat emas sepanjang sejarah.
Reli harga emas ini sudah memasuki hari kedelapan berturut-turut. Ini nyaris menyamai laju harga emas pada 25 April lalu yang menguat sembilan hari berturut-turut.
Spekulasi meluasnya krisis utang Eropa menjadi bahan bakar utama reli emas. Kabar terakhir, Irlandia adalah negara ketiga setelah Yunani dan Portugal, yang peringkat utangnya terpangkas akibat kesulitan finansial.
Moody’s Investors Service memangkas peringkat Irlandia menjadi Ba1 dari sebelumnya Baa3. Alasannya, Irlandia bakal membutuhkan tambahan dana talangan pada tahun ini. Di saat yang sama, pemegang obligasi Irlandia berpotensi merugi lantaran pemerintah negara itu tak mampu membayar utangnya.
Di luar krisis Eropa, pergerakan harga emas akan ditentukan kebijakan Amerika Serikat. Investor terus mencermati pembicaraan tentang batas pinjaman AS.
Pembahasan itu diharapkan rampung pada 2 Agustus. "Jika Kongres menyetujui batas utang US$ 20,3 triliun, dollar AS akan bertambah di pasar sehingga menyokong harga emas," kata Ibrahim, Analis Senior Harvest International Futures kepada KONTAN, kemarin.
Di sisi lain, ada spekulasi kemungkinan Bank Sentral AS menggulirkan kebijakan Quantitative Easing tahap III (QE III). "AS mungkin menunggu tiga sampai empat bulan lagi, dengan melihat perkembangan makro negara itu," prediksi Nizar Hilmy, Analis Harumdana Berjangka.
Secara fundamental, minat membeli emas warga dunia tak kunjung surut. Ambil contoh permintaan emas di India yang mencapai rekor tertingginya, 963,1 ton di tahun lalu. Mengacu data World Gold Council, permintaan emas India di bulan Mei tahun ini tumbuh 10% year-on-year.
Permintaan emas India mungkin meningkat menjadi lebih dari 1.200 ton pada 2020. Prediksi ini dipicu pertumbuhan ekonomi di negara itu sehingga mendorong daya beli masyarakat.
Para analis menebak, harga emas akan terus melaju sampai akhir bulan ini. Apalagi, otoritas Uni Eropa sepertinya membiarkan sebagian surat utang Yunani berstatus gagal bayar alias default.
Ibrahim optimistis harga emas pada minggu depan bisa menembus level US$ 1.580 per ons troi. Harga logam mulia ini diprediksi terus menanjak dan menyentuh US$ 1.600 di akhir Juli ini.
Edel Tuly, Analis UBS AG, juga mengerek proyeksi harga emas untuk rencana sebulan pada posisi US$ 1.575 per ons troi. Sedangkan untuk prediksi harga tiga bulanan, Edel masih mempertahankan logam mulia tersebut di level US$ 1.600 per ons troi.

www.kontan.co.id

Tuesday, July 12, 2011

Antisipasi PDB China, bursa Asia melaju untuk pertama kali di pekan ini

|0 comments
TOKYO. Pasar saham Asia naik untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir. Reli terjadi sebelum China merilis laporan pertumbuhan ekonominya, dan investor mempertimbangkan upaya Uni Eropa untuk menahan krisis utang Eropa.

Indeks regional MSCI Asia Pasifik naik 0,3% ke 134,86, pada pukul 10.03 di Tokyo. setiap dua saham reli berbanding satu saham yang jatuh. Sementara, indeks Nikkei 225 maju 0,45% ke 9.970,61. Reli juga terjadi pada indeks Kospi yaitu sebesar 0,42% ke 2.118,65, dan indeks Australia S&P/ASX 200 yang naik 0,13% ke 4.501,20.

Reli pasar regional terjadi seiring keputusan pemimpin Uni Eropa menyepakati proposal roll over utang untuk mencegah Yunani dari gagal bayar. Bursa saham juga menguat setelah penjualan ritel AS dilaporkan meningkat pada Juni, dan initial claim untuk tunjangan pengangguran menurun.

Sementara, hari ini, diperkirakan China akan merilis laporan produk domestik bruto yang naik 9,3% di kuartal kedua, dibandingkan kuartal sebelumnya yang naik 9,7%. China juga akan merilis laporan produksi industri dan penjualan ritel, pada hari yang sama.

Prasad Patkar dari Platypus Asset Management menyebut, setiap bukti soft landing di China disambut oleh pasar. Oleh karena itulah Beijing telah mencoba melakukan perencanaan dengan cermat, sejak pengetatan ekonomi dimulai akhir tahun lalu. "Ada komitmen yang solid di seluruh dunia untuk melihat bahwa situasi Eropa tidak membawa ekonomi kembali ke masa-masa krisis keuangan global 2008 silam," ujarnya.

Beberapa saham berhasil naik diantaranya, saham produsen mesin konstruksi terbesar di dunia, Komatsu Ltd. yang memperhitungkan China sebagai pasar terbesarnya, naik 1,4% di Tokyo. Lalu, saham Mitsubishi Corp. melaju 1,4% di Tokyo. Sementara, saham produsen emas nomor satu di Australia, Newcrest Mining Ltd. reli 1,7% setelah harga logam mulia naik ke level rekor.

www.kontan.co.id