Friday, May 6, 2011

Growing Up Bin Laden ( Osama Muda di Mata Istri Pertama: Lembut, Berkarakter Kuat dan Tegas )

Jakarta - Lembut, berkarakter kuat, dan tegas. Kesan itulah yang terdapat pada diri Osama bin Laden muda di mata istri pertamanya Najwa Ghaneem, anak kedua dari 7 bersaudara dari keluarga asal Yaman yang tinggal di Latakia, Suriah.

Dalam buku 'Growing Up bin Laden' yang ditulis oleh Najwa, putra keempatnya, Omar bin Laden dan Jean Sasson, penulis terkenal New York Times, Najwa yang merupakan sepupu Osama mengungkapkan kesan-kesan pada mantan suaminya saat tumbuh besar bersama.

Ayah Najwa memiliki saudara perempuan yang biasa dipanggil bibi Allia oleh Najwa dan saudara-saudaranya. Allia kemudian menikah dengan Mohammed bin Laden, kontraktor kaya di Arab Saudi yang memiliki hubungan pertemanan erat dengan Raja Abdul Azis al Saud. Tak pelak, Mohammed pun menjadi orang terkaya di negara yang dipenuhi dengan orang-orang kaya.

"Pernikahan itu singkat saja, dan bibiku hanya punya seorang anak dengan Mohammed bin Laden, anak lelaki bernama Osama," tulis Najwa mengenai orang tua Osama.

Osama lahir di Arab Saudi pada tahun 1957. Sedangkan Najwa, lahir di Latakia, Suriah pada tahun 1958.

Usai bercerai dengan Mohammed bin Laden, Allia menikah lagi dengan Mohammad al-Attas, warga Arab Saudi yang bekerja pada suami pertama Allia, dan dikaruniai 4 anak, 3 lelaki dan 1 perempuan.

Allia digambarkan Najwa suka berpakaian modis kendati menutupi lengan dan kakinya ketika berkunjung ke rumah keluarga Najwa di Latakia, Suriah. Allia juga berkerudung menutup rambutnya, namun menutup wajahnya saat di Arab Saudi.

"Bibi Allia lebih terkenal karena kebaikannya daripada gaya berpakaian dan kharismanya. Kapan pun dia mendengar kerabat yang kesusahan, dia akan dengan diam-diam memberikan bantuan untuk kelangsungan hidup mereka," tulis Najwa.

Sebagai saudara sepupu, putra-putri keluarga ayah Najwa dan keluarga Allia tumbuh bersama. Allia beserta keluarganya sering berkunjung ke rumah Najwa, sekedar makan bersama, dengan obrolan ringan dan gelak tawa.

Najwa saat remaja adalah gadis yang lincah, bahkan cenderung pemberontak pada ibunya, seorang ibu rumah tangga muslim yang konservatif, yang selalu menutup rambut dari leher hingga mata kaki.

"Aku memberontak pada terhadap pakaian tradisional semacam itu. Aku menolak permintaannya untuk berpakaian sederhana, aku bahkan menolak menutup rambutku. Aku mengenakan pakaian yang indah berwarna-warni yang tak terlalu kuno," tulisnya.

Saat musim panas, Najwa menolak memakai baju yang menutupi lengan atau rok terulur sampai mata kakinya. Hobi Najwa, selain membaca, juga gemar bermain tenis, naik sepeda dan melukis di atas kanvas.

"Aku akan berdebat dengan ibuku jika dia mengkritisi gaya berpakaianku yang modern. Kini aku merasa membuatnya gusar waktu itu," tulis Najwa.

Saat bertumbuh remaja, Osama, tentu saja merupakan bagian dari keluarga dan hidup Najwa. Di mata Najwa, sepupunya yang berusia setahun lebih tua itu serius dan berhati-hati.

"Begitu menginjak usia tujuh atau delapan tahun, ingatanku mulai jelas. Osama sering tampak jauh lebih tua dari usianya yang hanya setahun dariku, mungkin dia adalah anak yang serius serta hati-hati," jelas Najwa.

Osama, kendati dinilai misterius, semua sepupunya menyukainya. Karakternya pendiam dan lembut.

"Aku bisa berkata bahwa dia pemuda yang percaya diri tapi tak arogan. Dia lembut tapi tak lemah. Dia serius tapi tak bengis. Yang pasti dia sangat berbeda dengan saudara-saudaraku yang sangat ramai, yang selalu menggodaku dengan berbagai hal," imbuhnya.

Najwa mengenang tak pernah mengenal seorang anak seperti Osama yang begitu serius dan lembut. "Meskipun sikapnya sangat tenang, tak ada yang pernah menganggap Osama lemah, karena karakternya kuat dan tegas," jelas Najwa.

Karakter Osama yang kuat dan tegas ini, tampak saat Osama bermain dengan kakak Najwa, Naji. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, Naji dan Osama berjalan menyusuri kota kuno sekaligus ibukota Suriah, Damaskus, hingga lapar dan dahaga. Osama, Naji dan teman-temannya berteduh di bawah pohon apel.

Tergiur oleh buah apel, Naji dan teman-temannya memanjat pohon dan Osama disuruh menjaga di bawah. Singkat cerita, ulah mereka sebagai maling apel ketahuan. Osama, Naji dan teman-temannya kabur dengan berlari. Segerombol pria terus mengejar dan siap menyabet dengan ikat pinggang mereka.

Osama tertangkap, berhadapan dengan pria penjaga terbesar yang kemudian menggigit lengan Osama dengan kuat hingga membekas hingga dewasa. Osama menarik gigi pria itu dari lengannya, mendorongnya dan berteriak, "Sebaiknya kalian melepaskanku. Aku tamu di negara kalian. Aku tak akan membiarkan kalian memukuliku!"

"Kau kami lepaskan hanya karena kau di tanah kami," jawab pria penjaga itu.

Najwa juga mengenang peristiwa yang paling membuat Osama sedih. Kematian ayah kandungnya, Mohammed bin Laden pada 3 September 1967 dalam kecelakaan pesawat kecil. Saat itu Mohammed berusia 61 tahun.

"Sepupuku baru berusia 10 tahun tapi dia sangat mencintai dan menghormati ayahnya. Osama memang selalu berhati-hati dalam tindakan maupun perkataan. Tapi kematian ayahnya begitu mengguncangnya hingga dia semakin menarik diri. Selama bertahun-tahun jarang dia membicarakan kecelakaan tragis itu," tulis Najwa.

by : Nograhany Widhi K

www.detiknews.com

0 comments:

Post a Comment