Wednesday, September 28, 2011

Masuki Oktober, Trader Emas Sebaiknya Waspada



North Caroline – Oktober sudah di depan mata. Bagi para trader emas, ada baiknya berhati-hati, karena bulan ini adalah masa terburuk dalam kalender untuk logam mulia.
Demikian menurut kolumnis MarketWatch Mark Hulbert. Ia menilai, Oktober adalah bulan terburuk dalam kalender untuk emas. “Ada beberapa sentimen negatif musiman terhadap logam kuning. Namun, hal ini terbantu acara pernikahan dan festival-festival di India,”ujarnya.
Bila melihat historis Oktober selama tiga dekade terakhir, London PM Fixing Price dalam dolar AS telah turun rata-rata 0,9% selama bulan kesepuluh. Itu sebanding dengan keuntungan 0,6% pada seluruh bulan lainnya. Ada perbedaan 1,5 % yang signifikan secara statistik.
Saat ini, sebagian besar pedagang emas pun sudah bertransaksi secara penuh pada September, yang menjadi aksi serius untuk logam kuning. Bahkan setelah reli 3,6%, emas turun 10% untuk bulan itu. “Para investor mungkin tidak bisa menunggu hingga September berakhir,” katanya.
Ada beberapa faktor yang membebani pergerakan emas. Salah satunya adalah kecenderungan historis emas untuk beralih ke saham. Terutama sejak saham pada Oktober sering mencapai titik terendah dan mulai reli cukup kuat, “Saat itulah uang cenderung mengalir keluar dari emas ke saham.”
Meskipun teori ini tidak memenuhi fakta dengan sempurna, setidaknya konsisten dengan apa yang cenderung terjadi pada September, bulan yang rata-rata buruk untuk saham. Faktanya, bila September adalah bulan terburuk dari kalender untuk saham, itu adalah yang terbaik untuk emas.
Namun, ada masa ketika teori mulai tidak sesuai, yakni pada November dan Desember, dimana baik emas dan saham cenderung naik. Tapi, menurut studi dari Ned Davis Research, ada faktor-faktor musiman lainnya yang dapat membantu menjelaskan kekuatan emas di bulan-bulan selanjutnya tersebut.
Salah satunya adalah permintaan perhiasan di India, konsumen terbesar dunia. Analis ekuitas senior Ned Davis, John LaForge menjelaskan bahwa, bahkan dengan semua kepentingan spekulatif dalam berinvestasi emas, sekitar 50% permintaan emas masih berasal dari perhiasan.
“Lebih dari setengah permintaan ini berasal dari India dan China. Sementara China dengan cepat menjadi pemain besar di pasar perhiasan, India telah menjadi pendorong utama selama bertahun-tahun, " kata LaForge.
Permintaan emas India ternyata juga mempunyai pola musiman sendiri. Satu periode adalah sekitar Diwali, festival lima hari yang dimulai antara pertengahan Oktober sampai pertengahan November. Selanjutnya adalah ketika pasangan India banyak melangsungkan pernikahan.
LaForge menganalisis perilaku harga emas selama satu dekade, pada bulan sebelum dan setelah festival Diwali terakhir. Ia menemukan bahwa emas biasanya melemah pada awal Diwali. Terkait hal ini, ia pun menyarankan investor untuk memperhatikan Diwali yang tahun ini dimulai pada 26 Oktober.
Permintaan emas di India mengalami puncaknya selama musim festival, yang dimulai dengan Idul Fitri bulan lalu dan berakhir pada Diwali Oktober mendatang. Kemudian diikuti musim pernikahan tradisional. Permintaan untuk koin dan batangan emas juga meningkat karena investor mencari tempat berlindung terhadap inflasi.
Namun, pola ini tampaknya akan sedikit mengalami perubahan. Pasalnya, penurunan harga emas dari level rekor, akan memicu permintaan akan logam mulia ini sebelum musim festival di India tiba.
Emas untuk pengiriman segera anjlok 8,8% dalam tiga hari perdagangan kemarin, kejatuhan terbesar sejak kegagalan Lehman Brothers Holdings Inc pada 2008. Koreksi terjadi karena beberapa investor menjual logam untuk menutupi kerugian di pasar lain, atas kekhawatiran bahwa ekonomi global dapat jatuh ke dalam resesi.
Bhaskar Bhat, managing director Titan Industries Ltd (TTAN), peritel perhiasan terbesar India mengatakan, harga emas telah turun, dan telah mendorong permintaan cukup besar akan emas, dua sampai tiga hari terakhir. “Penurunan harga emas telah membuat logam mulia lebih menarik bagi investor karena alternatif lain tidak menarik," ujarnya dikutip dari Bloomberg.
“Sebuah pemulihan permintaan emas India dapat membantu memperpanjang reli 16% tahun ini,” katanya.
Emas mendapatkan keuntungan 11 tahun terakhir, akibat krisis utang Eropa dan kekhawatiran bahwa ekonomi AS mungkin melambat sehingga memacu permintaan untuk investasi. Survei Bloomberg yang dilakukan pada konferensi London Bullion Market Association di Montreal bulan ini bahkan memperkirakan, emas akan naik ke rekor US$ 2.038 per ounce pada akhir tahun. [ast]

www.inilah.com

0 comments:

Post a Comment