BERBAGAI cara dilakukan orang demi memperbaiki kualitas kehidupan seksualnya. Salah satunya, dengan menggunakan herbal berkhasiat yang dipercaya ampuh meningkatkan libido.
Adalah maca (Ledpidium meyenil), sejenis herbal asal Peru yang dipercaya mujarab sebagai aprodisiak. Tanaman ini dihormati dalam kebudayaan Inca kuno karena memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit. Menurut kepercayaan rakyat, umbi yang bentuknya seperti lobak ini diyakini mampu memberikan energi dan kejernihan mental, dan meningkatkan dorongan seks di Peru selama lebih dari 2.00 tahun. Maca mengandung zat tepung dan memiliki rasa seperti kentang. Tanaman ini mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat makanan. Selain itu, tanaman yang idealnya tumbuh di ketinggian pengunungan Andes ini juga kaya akan sterol tanaman dan menjadi sumber zat besi, magnesium, seleniun, dan kalsium yang baik.
Banyak mitos berkembang seputar maca. Tapi, bukti ilmiah tentang efektivitasnya masih terbatas. Menurut situs webmd.com, hanya ada beberapa studi kontrol secara acak yang menunjukkan sejumlah khasiatnya. Para peneliti masih berusaha mempelajari bagaimana tanaman ini mungkin membantu kaum lelaki dan perempuan dengan libido rendah.
Beberapa studi menunjukkan, maca mungkin meningkatkan kualitas air mani, meredakan gejala menopause, dan mengurangi pembesaran prostat.
Sebuah penelitian terhadap hewan menemukan bahwa maca adalah aprodisiak. Namun, studi terhadap manusia kurang. Sebuah tinjauan tentang maca di jurnal Current Sexual Health Reports menyimpulkan, tidak ada bukti medis yang kuat untuk mendukung penggunaanya untuk mengatasi disfungsi seksual perempuan.
''Maca mungkin memiliki dampak positif pada disfungsi seksual, namun ada aspek psikologis dan sosial yang begitu banyak untuk mengukur penyembuhan seksual, sehingga sulit untuk merasa yakin,'' ujar Adriane Fught-Berman, MD, seorang profesor di Georgetown University Medical Center dan penulis '5-Minute Herb and Dietary Supplement Clinical Consult.'
Polemik
Menurutnya, klaim yang menyebutkan maca sebagai aprodisiak yang sangat efektif mungkin berlebihan. ''Beberapa klaim terlalu berlebihan. Dibandingkan dengan plasebo, maca hanya sedikit meningkatkan hasrat seksual. Bukti terkuat adalah bahwa tanaman ini dapat meningkatkan jumlah sperma dan meningkatkan kesuburan pada lelaki tertentu.''
Sementara itu, mengenai khasiat maca dalam mengurangi gejala menopause, menurut Berman belum ada uji coba klinis yang dilakukan pada perempuan.
Meski bukti yang memperkuat klaim tersebut masih kurang, psikiater dan dokter pengobatan fungsional, Hyla Cass, MD, mengatakan maca memiliki khasiat mujarab. ''Dalam praktikku, saya telah melihat maca memulihkan ketidakseimbangan hormon dan hasrat seksual terkait kesuburan pada lelaki dan perempuan.''
Komentar bernada serupa dilontarkan Chris Kilham, penulis 'Hot Plants' yang mengakui dirinya sebagai pemburu obat. ''Maca memiliki sejarah yang sangat panjang sebagai obat yang berhasil digunakan untuk mengatasi ketidaknyamanan menopause, ketidaksuburan, dan penyembuhan seksual. Pertanyaannya adalah bukan apakah tanaman ini mujarab karena kita tahu pasti dia mujarab, tapi bagaimana kerjanya.''
Di Peru, maca menjadi makanan pokok penduduk lokal, mulai dari kaum lelaki, perempuan, anak-anak, bayi, ibu hamil dan menyusui, sampai lansia. Umbi yang memiliki rasa seperti kentang ini, dimasak dengan berbagai cara: direbus dan dilumatkan; dicampur dengan susu; dan dikeringkan, digiling, lalu bubuknya digunakan untuk membuat roti, kue, dan biskuit. Penulis : yulia permatasari
www.mediaindonesia.com
Adalah maca (Ledpidium meyenil), sejenis herbal asal Peru yang dipercaya mujarab sebagai aprodisiak. Tanaman ini dihormati dalam kebudayaan Inca kuno karena memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit. Menurut kepercayaan rakyat, umbi yang bentuknya seperti lobak ini diyakini mampu memberikan energi dan kejernihan mental, dan meningkatkan dorongan seks di Peru selama lebih dari 2.00 tahun. Maca mengandung zat tepung dan memiliki rasa seperti kentang. Tanaman ini mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat makanan. Selain itu, tanaman yang idealnya tumbuh di ketinggian pengunungan Andes ini juga kaya akan sterol tanaman dan menjadi sumber zat besi, magnesium, seleniun, dan kalsium yang baik.
Banyak mitos berkembang seputar maca. Tapi, bukti ilmiah tentang efektivitasnya masih terbatas. Menurut situs webmd.com, hanya ada beberapa studi kontrol secara acak yang menunjukkan sejumlah khasiatnya. Para peneliti masih berusaha mempelajari bagaimana tanaman ini mungkin membantu kaum lelaki dan perempuan dengan libido rendah.
Beberapa studi menunjukkan, maca mungkin meningkatkan kualitas air mani, meredakan gejala menopause, dan mengurangi pembesaran prostat.
Sebuah penelitian terhadap hewan menemukan bahwa maca adalah aprodisiak. Namun, studi terhadap manusia kurang. Sebuah tinjauan tentang maca di jurnal Current Sexual Health Reports menyimpulkan, tidak ada bukti medis yang kuat untuk mendukung penggunaanya untuk mengatasi disfungsi seksual perempuan.
''Maca mungkin memiliki dampak positif pada disfungsi seksual, namun ada aspek psikologis dan sosial yang begitu banyak untuk mengukur penyembuhan seksual, sehingga sulit untuk merasa yakin,'' ujar Adriane Fught-Berman, MD, seorang profesor di Georgetown University Medical Center dan penulis '5-Minute Herb and Dietary Supplement Clinical Consult.'
Polemik
Menurutnya, klaim yang menyebutkan maca sebagai aprodisiak yang sangat efektif mungkin berlebihan. ''Beberapa klaim terlalu berlebihan. Dibandingkan dengan plasebo, maca hanya sedikit meningkatkan hasrat seksual. Bukti terkuat adalah bahwa tanaman ini dapat meningkatkan jumlah sperma dan meningkatkan kesuburan pada lelaki tertentu.''
Sementara itu, mengenai khasiat maca dalam mengurangi gejala menopause, menurut Berman belum ada uji coba klinis yang dilakukan pada perempuan.
Meski bukti yang memperkuat klaim tersebut masih kurang, psikiater dan dokter pengobatan fungsional, Hyla Cass, MD, mengatakan maca memiliki khasiat mujarab. ''Dalam praktikku, saya telah melihat maca memulihkan ketidakseimbangan hormon dan hasrat seksual terkait kesuburan pada lelaki dan perempuan.''
Komentar bernada serupa dilontarkan Chris Kilham, penulis 'Hot Plants' yang mengakui dirinya sebagai pemburu obat. ''Maca memiliki sejarah yang sangat panjang sebagai obat yang berhasil digunakan untuk mengatasi ketidaknyamanan menopause, ketidaksuburan, dan penyembuhan seksual. Pertanyaannya adalah bukan apakah tanaman ini mujarab karena kita tahu pasti dia mujarab, tapi bagaimana kerjanya.''
Di Peru, maca menjadi makanan pokok penduduk lokal, mulai dari kaum lelaki, perempuan, anak-anak, bayi, ibu hamil dan menyusui, sampai lansia. Umbi yang memiliki rasa seperti kentang ini, dimasak dengan berbagai cara: direbus dan dilumatkan; dicampur dengan susu; dan dikeringkan, digiling, lalu bubuknya digunakan untuk membuat roti, kue, dan biskuit. Penulis : yulia permatasari
www.mediaindonesia.com


0 comments:
Post a Comment