Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Monday, October 10, 2011

ECB minta pemerintah Eropa berikan jaminan penerbitan obligasi negara

|0 comments
MILAN. European Central Bank (ECB) mengungkapkan, dana talangan yang dialirkan ke negara-negara yang terbelit masalah harus diperbesar. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan menggunakan jaminan pemerintah ketimbang dengan cara operasi pasar seperti yang sudah dilakukan ECB.
Bank Central Eropa tersebut berpendapat, pemerintah harus menggunakan dana 440 miliar euro atau setara dengan US$ 603 miliar dalam program European Financial Stability Facility (EFSF). Maksudnya, dana ini digunakan sebagai asuransi bagi negara-negara bermasalah yang menerbitkan surat utang.
Wakil Presiden ECB Vitor Constancio berpendapat, EFSF harus didedikasikan untuk meningkatkan penerbitan surat utang baru dan melindungi negara-negara bagian terhindar dari krisis.
Para pemimpin Eropa bisa mendiskusikan manfaat EFSF selama pertemuan yang terjadi hingga 23 Oktober mendatang.

www.kontan.co.id

Thursday, October 6, 2011

Operation Twist, Fed jual obligasi pertama kali sejak 2008

|0 comments
NEW YORK. The Federal Reserve (The Fed) mulai memberikan stimulus ekonomi melalui program yang dikenal dengan sebutan Operation Twist. Kamis (6/10) Bank Sentral Amerika ini menjual obligasi senilai US$ 8,87 miliar dengan tujuan menurunkan biaya pinjaman. Tapi tenor surat berharga yang dijual tersebut tak lebih dari satu tahun.
Berdasarkan keterangan di situs resmi The Fed, obligasi yang diedarkan akan jatuh tempo pada Januari 2012 hingga Juli 2012. Ini adalah penjualan yang pertama kali dilakukan otoritas moneter Amerika sejak Mei 2008. Sebelumnya, pada 21 September silam, Fed mengumumkan akan melakukan Operation Twist tahun ini dan dimulai pada 3 Oktober 2011.
Dalam operasi pasar ini, Fed menukar portfolio obligasi jangka pendek senilai US$ 400 miliar dengan obligasi jangka panjang. Langkah ini juga diyakini bisa meredam laju krisis keuangan di Amerika Serikat (AS). Artinya, pemegang kendali neraca keuangan AS berharap, Paman Sam tak terlalu lama memikul utang yang terus membubung.
Selain penjualan ini, Bank Sentral yang digawangi oleh Ben S Bernanke juga bakal memborong surat utang yang memiliki tenor 30 tahun. Tak berhenti di program pembelian, selanjutnya Fed akan menjual obligasi dengan jumlah yang sama. Tapi, memiliki tenor lebih pendek yaitu tiga tahun atau kurang dari itu.
Program Operation Twist ini juga berisi mengenai rencana Fed yang akan membeli tresuri yang beredar di masyarakat sebanyak 13 kali dalam waktu sebulan. Dalam waktu yang sama, Fed menjual surat utang sebanyak enam kali.
Sedikit bernostalgia, Bernanke sekali waktu pernah berjanji, The Fed tak kan pernah mengulangi kesalahan pada tahun 1937. Ketika itu, bank sentral AS terlalu terburu-buru mengetatkan kebijakan moneternya sehingga ekonomi AS yang sedang jeblok makin terpuruk.
Bernanke memegang ucapannya. Selain melakukan Operation Twist, Ia juga akan menjaga bunga acuan nyaris nol persen sejak akhir 2008 dan mengerek neraca The Fed hingga tiga kali lipat lebih menjadi US$ 2,85 triliun.

www.kontan.co.id

Tuesday, October 4, 2011

Analis : Waspadai pelemahan euro lebih lanjut

|0 comments
JAKARTA. Keputusan lembaga pemeringkat Moody’s memangkas peringkat kredit Italia sebanyak 3 derajat, meningkatkan kekhawatiran akan kondisi ekonomi Eropa. Langkah Moody's juga membuat pasar kembali dilanda kepanikan atas kondisi Yunani.

Mata uang kawasan ini pun diperkirakan akan tertekan pada transaksi hari ini. Analis memprediksi, tren masih dalam rentang pelemahannya, mencapai lagi level terendah bulanannya. "Penurunan dapat ditandai dengan trend channel turunnya yang masih aktif di harian. Pada hourly yang sempat naik mulai terlihat gerak turunnya, didukung pada momentum yang merosot," tutur Herien Douglas, Analis Valbury Asia Futures.

Memang, euro berhasil menguat 1,27% terhadap dollar AS ke 1,3347 setelah sempat mendekati level terendah dalam kurun sembilan bulan terakhir pada awal sesi New York. Penguatan euro antara lain didukung oleh sebuah artikel yang dirilis Financial Times bahwa pemimpin Uni?Eropa tengah mempertimbangkan untuk merekapitalisasi institusi keuangan yang bermasalah.

Atas kondisi ini, Herien memberikan saran agar investor tak terlalu agresif dalam melakukan transaksi. "Waspadai gerak pada level 1,3369-1,3463 merupakan resistance, tren dapat berlanjut selama area itu masih utuh," saran Herien.

www.kontan.co.id

Monday, October 3, 2011

Wow, indeks S&P 500 merosot di bawah level 1.100

|0 comments
NEW YORK. Pasar saham dan komoditas terguncang. Sebagai bukti, kemarin, indeks Standard & poor's 500 dan harga kontrak minyak anjlok ke level terendah dalam setahun terakhir. Penyebabnya, pelaku pasar cemas mengenai krisis Eropa.

Sekadar informasi, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Standard & Poor's 500 turun 2,9% menjadi 1.099,23. Salah satu saham yang paling besar menggerus indeks S&P 500 adalah Bank of America yang penurunannya mencapai 9,6% ke level terendah dalam 30 bulan terakhir.

Sedangkan indeks S&P GSCI Commodities turun 0,9% dan menyentuh level terendah dalam 10 bulan terakhir. Tidak hanya itu, euro juga keok atas 13 dari 16 mata uang dunia ke level paling lemah dalam satu dekade terakhir terhadap yen. Sedangkan yield surat utang negara AS meorost 18 basis poin ke 2,74%, terkecil sejak Januari 2009.

"Eropa masih akan menjadi fokus utama perhatian investor. Pengambilan risiko (risk on) dan pelepasan risiko (risk off) dalam transaksi perdagangan masih akan terus berlanjut," papar Peter Jankovskis dari Oakbrook Investment di Lisle, Illinois.

Sekadar tambahan saja, indeks S&P 500 sudah anjlok 14% pada kuartal III. Sementara, Stoxx 600 anjlok 17% dan S&P GSCI melorot 12%. Kesemuanya mencatatkan penurunan terbesar sejak kuartal IV 2008 setelah Lehman Brothers Holdings Inc bangkrut.

www.kontan.co.id

Wednesday, September 28, 2011

Masuki Oktober, Trader Emas Sebaiknya Waspada

|0 comments


North Caroline – Oktober sudah di depan mata. Bagi para trader emas, ada baiknya berhati-hati, karena bulan ini adalah masa terburuk dalam kalender untuk logam mulia.
Demikian menurut kolumnis MarketWatch Mark Hulbert. Ia menilai, Oktober adalah bulan terburuk dalam kalender untuk emas. “Ada beberapa sentimen negatif musiman terhadap logam kuning. Namun, hal ini terbantu acara pernikahan dan festival-festival di India,”ujarnya.
Bila melihat historis Oktober selama tiga dekade terakhir, London PM Fixing Price dalam dolar AS telah turun rata-rata 0,9% selama bulan kesepuluh. Itu sebanding dengan keuntungan 0,6% pada seluruh bulan lainnya. Ada perbedaan 1,5 % yang signifikan secara statistik.
Saat ini, sebagian besar pedagang emas pun sudah bertransaksi secara penuh pada September, yang menjadi aksi serius untuk logam kuning. Bahkan setelah reli 3,6%, emas turun 10% untuk bulan itu. “Para investor mungkin tidak bisa menunggu hingga September berakhir,” katanya.
Ada beberapa faktor yang membebani pergerakan emas. Salah satunya adalah kecenderungan historis emas untuk beralih ke saham. Terutama sejak saham pada Oktober sering mencapai titik terendah dan mulai reli cukup kuat, “Saat itulah uang cenderung mengalir keluar dari emas ke saham.”
Meskipun teori ini tidak memenuhi fakta dengan sempurna, setidaknya konsisten dengan apa yang cenderung terjadi pada September, bulan yang rata-rata buruk untuk saham. Faktanya, bila September adalah bulan terburuk dari kalender untuk saham, itu adalah yang terbaik untuk emas.
Namun, ada masa ketika teori mulai tidak sesuai, yakni pada November dan Desember, dimana baik emas dan saham cenderung naik. Tapi, menurut studi dari Ned Davis Research, ada faktor-faktor musiman lainnya yang dapat membantu menjelaskan kekuatan emas di bulan-bulan selanjutnya tersebut.
Salah satunya adalah permintaan perhiasan di India, konsumen terbesar dunia. Analis ekuitas senior Ned Davis, John LaForge menjelaskan bahwa, bahkan dengan semua kepentingan spekulatif dalam berinvestasi emas, sekitar 50% permintaan emas masih berasal dari perhiasan.
“Lebih dari setengah permintaan ini berasal dari India dan China. Sementara China dengan cepat menjadi pemain besar di pasar perhiasan, India telah menjadi pendorong utama selama bertahun-tahun, " kata LaForge.
Permintaan emas India ternyata juga mempunyai pola musiman sendiri. Satu periode adalah sekitar Diwali, festival lima hari yang dimulai antara pertengahan Oktober sampai pertengahan November. Selanjutnya adalah ketika pasangan India banyak melangsungkan pernikahan.
LaForge menganalisis perilaku harga emas selama satu dekade, pada bulan sebelum dan setelah festival Diwali terakhir. Ia menemukan bahwa emas biasanya melemah pada awal Diwali. Terkait hal ini, ia pun menyarankan investor untuk memperhatikan Diwali yang tahun ini dimulai pada 26 Oktober.
Permintaan emas di India mengalami puncaknya selama musim festival, yang dimulai dengan Idul Fitri bulan lalu dan berakhir pada Diwali Oktober mendatang. Kemudian diikuti musim pernikahan tradisional. Permintaan untuk koin dan batangan emas juga meningkat karena investor mencari tempat berlindung terhadap inflasi.
Namun, pola ini tampaknya akan sedikit mengalami perubahan. Pasalnya, penurunan harga emas dari level rekor, akan memicu permintaan akan logam mulia ini sebelum musim festival di India tiba.
Emas untuk pengiriman segera anjlok 8,8% dalam tiga hari perdagangan kemarin, kejatuhan terbesar sejak kegagalan Lehman Brothers Holdings Inc pada 2008. Koreksi terjadi karena beberapa investor menjual logam untuk menutupi kerugian di pasar lain, atas kekhawatiran bahwa ekonomi global dapat jatuh ke dalam resesi.
Bhaskar Bhat, managing director Titan Industries Ltd (TTAN), peritel perhiasan terbesar India mengatakan, harga emas telah turun, dan telah mendorong permintaan cukup besar akan emas, dua sampai tiga hari terakhir. “Penurunan harga emas telah membuat logam mulia lebih menarik bagi investor karena alternatif lain tidak menarik," ujarnya dikutip dari Bloomberg.
“Sebuah pemulihan permintaan emas India dapat membantu memperpanjang reli 16% tahun ini,” katanya.
Emas mendapatkan keuntungan 11 tahun terakhir, akibat krisis utang Eropa dan kekhawatiran bahwa ekonomi AS mungkin melambat sehingga memacu permintaan untuk investasi. Survei Bloomberg yang dilakukan pada konferensi London Bullion Market Association di Montreal bulan ini bahkan memperkirakan, emas akan naik ke rekor US$ 2.038 per ounce pada akhir tahun. [ast]

www.inilah.com